SMA Negeri 1 Mirit menggelar acara Sosialisasi Pencegahan Isu Perkawinan Anak dan Moderasi Beragama, Rabu (16/7/2025). Kegiatan yang merupakan rangkaian dari agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) itu diikuti oleh lebih dari dua ratus siswa baru kelas X tahun ajaran 2025/2026.
Hadir sebagai narasumber, penyuluh agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mirit Muhammad Mufid, S.Pd. dan Masngut, S.Pd., M.Pd.
Dalam materinya Muhammad Mufid mengungkapkan keprihatinannya terhadap kasus pernikahan dini di kecamatan Mirit akhir-akhir ini. Menurutnya, penyebab pernikahan dini antara lain: latar belakang pendidikan, faktor adat dan budaya, pergaulan bebas, ekonomi keluarga, dorongan orang tua, dan pengaruh media massa. "Pendidikan yang rendah menjadi faktor utama penyebab pernikahan dini. Makanya kalian harus belajar yang rajin, kejar ijazah jangan malah ijabsah," katanya.
Pak Mufid, demikian dirinya biasa disapa, juga menyampaikan dampak pergaulan bebas di kalangan remaja. Perempuan merupakan pihak yang paling dirugikan dalam kasus pergaulan bebas yang tidak terkendali. Beberapa resiko akibat pergaulan bebas di antaranya hamil di luar nikah, membuat malu, menikah secara terpaksa dan pernikahan di bawah umur. "Hamil di luar nikah bukan hanya membuat malu diri sendiri, melainkan juga mencoreng nama keluarga, sekolah dan masyarakat.
Di akhir paparannya, Pak Mufid mengajak siswa SMA Negeri 1 Mirit untuk menghindari pergaulan bebas dan pernikahan dini. Sudah seharusnya seorang pelajar mengisi waktu selama sekolah untuk hal-hal positif yang mendukung masa depan dan cita-citanya.
Moderasi Beragama
Dalam kesempatan sosialisasi tersebut juga disampaikan materi tentang Moderasi Beragama oleh Masngut, S.Pd., M.Pd. Di negara yang beragam seperti Indonesia, toleransi sangat diperlukan untuk menghindari konflik antar agama. "Setiap agama meyakini kebenaran akan agama yang dianutnya. Oleh karena itu, kita harus menghargai perbedaan keyakinan tersebut,"tutur pria yang biasa disapa Gus Masngut itu.
Dalam membentuk masyarakat yang moderat ada pondasi yang harus dibangun dengan kokoh yaitu: komitmen berbangsa, toleransi, anti kekerasan dan penerimaan terhadap tradisi. "Mari bersama-sama kita wujudkan Indonesia yang baldatun thayyibatun wa robbun ghofur, negeri yang mengumpulkan kebaikan alam dan perilaku penduduknya," ajaknya di akhir penyampaian materi.
(FS)