Ukir Mimpi dari Kelas Inspirasi


SMA Negeri 1 Mirit sukses menggelar kegiatan Kelas Inspiratif, baru-baru ini. Ratusan siswa antusias mengikuti agenda yang digagas oleh guru Bimbingan Konseling sekolah setempat.

Narasumber yang merupakan alumni berhasil membakar semangat peserta untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Kegiatan bukan hanya memberikan informasi terkait dunia perkuliahan melainkan juga memberikan kisah inspiratif tentang jatuh bangunnya para alumni melewati kegagalan dalam menemukan kampus impiannya.

Dika Prasetya, alumni tahun 2024 yang saat ini menjadi mahasiswa Universitas Tidar jurusan Agroteknologi mengaku pernah merasa bingung pilih jurusan, galau pada masa depan dan takut tidak lolos mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Tapi, semua dilewati dengan penuh optimisme. Hingga akhirnya berhasil lolos seleksi perguruan tinggi melalui jalur SNBP. "Kalau menurut aku, kuliah bukan cuma soal IPK, ikut organisasi juga perlu untuk dapat skill yang terus dipakai sampai sekarang," kata mahasiswa yang aktif sebagai MC utama di kampusnya sekaligus penyiar radio Untidar.

Sementara itu, Alayya Firyaal Desminda Putri  menceritakan kisah perjalanannya sampai pada jurusan Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga yang saat ini dijalaninya. Alumni SMA Mirit tahun 2023 itu pernah mencoba mendaftar di fakultas kedokteran meski akhirnya gagal. "Dari sini aku belajar bahwa kegagalan seseorang belum tentu disebabkan oleh ketidakmampuannya, bisa jadi disebabkan oleh faktor lainnya yang belum tentu diketahui orang lain," ungkap mantan ketua OSIS itu.

Berbeda dengan kedua narasumber sebelumnya yang berangkat dari siswa berprestasi semasa SMA. Ilham Kusuma Aji mengaku tidak memiliki prestasi di sekolahnya. Bahkan, para guru pun kurang mengenalnya karena pendiam. "Saat SMA, saya berada di kelas MIPA 3, di mana sebagian besar teman sekelas sudah sangat ambisius dan memiliki gambaran jelas tentang rencana studi mereka setelah lulus. Sementara saya masih diliputi kebingungan dan harus meraba arah sendiri," beber Ilham.

Mahasiswa dari Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang sekaligus mahasiswa Universitas Terbuka Ilmu Perpustakaan tersebut memiliki jalan yang berliku dalam proses pemilihan jurusan dan kampus. Dia tidak dapat mengikuti seleksi lewat jalur SNBP karena nilainya tidak masuk eligible, akhirnya mengikuti SPAN PTKIN meski berakhir dengan kegagalan. Dua tahun berturut-turut mengikuti UTBK dengan hasil yang sama, kegagalan. Ilham tidak menyerah. Dia kembali mencoba jalan lain. Mengikuti saran orang tuanya dia mengambil jalur mandiri mendaftar di Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang yang saat ini ditekuninya.

Tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan orang tua dalam membiayai kuliahnya, Ilham aktif mengikuti berbagai kegiatan untuk mendukung belajarnya di perguruan tinggi. Prestasi-prestasi yang tidak sempat digapainya sewaktu SMA diraihnya semasa kuliah, seperti menjadi asisten sutradara, penulis artikel jurnal, cerpen, puisi, mengikuti komunitas sastra, mengikuti seni pertunjukan dan mengikuti berbagai kompetisi di bidang sastra. 

Menurutnya mahasiswa sastra perlu melakukan pengembangan diri di luar perkuliahan seperti banyak membaca buku, perbanyak relasi, personal branding dan perbanyak pengalaman dalam bidang sastra. "Yang terpenting bukan di mana tempat belajarnya, tapi bagaimana kita dapat melakukan pengembangan diri seluas-luasnya," pungkas Ilham mengakhiri paparannya.


(FS)







Copyright © 2020 - 2026 SMA NEGERI 1 MIRIT